Review dan Sinopsis The Evil Dead (1981) Pondok Tua Sarang Iblis [The Original Fear for Cabin in the Woods]

 

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Review dan Sinopsis The Evil Dead (1981) Pondok Tua Sarang
Iblis [The Original Fear for Cabin in the Woods]

Oleh Skywalker HunterNabil Bakri

“I
have seen the dark shadows moving in the woods and I have no doubt that
whatever I have resurrected through this book is sure to come crawling… for
me.”—Archeologist Raymond Knowby

Review berikut menggunakan gambar/foto milik pemegang hak
cipta yang dilindungi doktrin fair use. The following review utilizes
copyrighted pictures under the doctrine of fair use.

Genre             : Horror
[Supranatural] | Film kelas B

Rilis                 : 15 Oktober 1981

Durasi             : 85 menit

Sutradara       : Sam
Raimi

Pemeran         : Bruce Campbell, Ellen Sandweiss, Richard
DeManincor,
Betsy Baker, Theresa Tilly

Episode           : –

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Sinopsis

Ash
Williams dan saudarinya Cheryl Williams, pergi bersama Linda yang merupakan
kekasih Ash, dan dua orang teman mereka dari Michigan State University; Scott
dan kekasihnya Shelly untuk mengunjungi sebuah pondok tua yang terpencil.
Pondok terbengkalai yang baru saja dibeli itu letaknya sangat terpencil dan
hanya dapat dilalui dengan jembatan yang rapuh. Di tengah-tengah jembatan, roda
belakang mobil yang mereka tumpangi sempat terperosok akubat kayu jembatan yang
sudah lapuk. Namun mereka akhirnya berhasil menyeberangi jembatan tersebut.
Sesampainya di depan pondok yang sudah tua dan tampak tidak terawat itu, mereka
semua melihat ayunan yang bergerak dengan sendirinya. Hal tersebut cukup wajar
karena hembusan angin cukup kuat. Begitu Scott meraih kunci untuk membuka pintu
pondok itu, ayunan yang tadinya berayun sendiri tiba-tiba berhenti. Kelima
sahabat itu merasakan keanehan, tetapi mereka tidak terlalu memikirkannya dan
melanjutkan rencana liburan mereka bermalam di pondok itu. Ketika malam tiba,
sebelum makan malam siap, Cheryl menghabiskan waktu dengan menggambar jam yang
ada di pondok tersebut. Namun tiba-tiba, tangannya bergerak sendiri dan
menggambar sebuah benda yang berbentuk seperti sebuah buku yang aneh. Ketika
tengah menyantap makan malam, kelima orang itu dikejutkan oleh pintu ruang
bawah tanah yang terbuka dengan sendirinya. Scott pergi untuk menyelidikinya,
diikuti oleh Ash. Di ruang bawah tanah, Ash dan Scott menemukan barang-barang
milik penghuni pondok sebelumnya, yakni seorang arkeolog. Mereka berdua
menemukan sebuah rekaman suara si arkeolog dan sebuah buku yang aneh bentuknya.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Ash
dan Scott membawa rekaman dan buku itu ke atas. Buku itu berbentuk seperti
gambar aneh yang dibuat oleh Cheryl secara gaib. Sampai sejauh ini, hanya
Cheryl yang sudah mengalami kejadian mistis sehingga ialah satu-satunya yang
merasa takut dengan temuan Ash dan Scott. Ketika rekaman itu diputar, mereka
akhirnya tahu bahwa pondok itu digunakan oleh seorang arkeolog bersama istrinya
untuk meneliti buku gaib yang bernama 
Naturom Demonto. Menurut sang arkeolog, sampul buku tersebut dibuat dari
kulit manusia dan ditulis dengan tinta dari darah manusia. Ia kemudian
menjelaskan jika buku tersebut memiliki kekuatan untuk memanggil makhluk gaib
dari dimensi lain jika mantra di dalamnya dibaca—yang tentu saja dibaca oleh
sang arkeolog. Rekaman tersebut kemudian berlanjut pada rekaman sang arkeolog
membacakan mantra dari Naturom Demonto. Hal tersebut kemudian membangkitkan
kekuatan-kekuatan jahat yang bertujuan untuk membunuh kelima sahabat tersebut,
sebagaimana mereka membunuh arkeolog dan istrinya. Meskipun keanehan-keanehan
cuaca terus terjadi, para penghuni pondok tidak menganggapnya dengan
serius—kecuali Cheryl yang sangat ketakutan. Tak lama kemudian, ketika Cheryl
hanya seorang diri, ia ditangkap oleh hutan yang menjadi hidup; ranting dan
tumbuhan rambat yang telah dirasuki oleh iblis dari Naturom Demonto menyekapnya
dan memperkosanya. Dengan susah payah, Cheryl akhirnya berhasil meloloskan diri
dan kembali ke pondok. Lagi-lagi, teman-temannya tidak percaya dengan
perkataannya. Cheryl bersikeras untuk diantarkan kembali ke kota. Akhirnya, Ash
mengantarkan Cheryl untuk kembali ke kota. Namun, mereka tidak bisa kembali
karena jembatan yang menjadi satu-satunya akses telah rusak parah, seperti
dengan sengaja dihancurkan. Ash dan Cheryl pun tidak punya pilihan kecuali
kembali ke pondok.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Sesampainya
di pondok, Ash kembali mendengarkan rekaman suara arkeolog untuk mencari tahu
lebih lanjut tentang apa yang sebelumnya terjadi. Arkeolog tersebut menyatakan
bahwa iblis dari Naturom Demonto dapat merasuki apapun termasuk manusia, dan
satu-satunya cara mengalahkan manusia yang dirasuki adalah dengan
memutilasinya. Liburan yang semestinya menyenangkan tersebut mulai terasa
mencekam. Linda dan Shelly mengisi waktu dengan bermain tebak kartu. Secara
tiba-tiba, suara Cheryl menjadi serak dan secara ajaib berhasil menebak seluruh
kartu yang ada di tangan Shelly. Cheryl telah dirasuki iblis dari Naturom
Demonto dan kini memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan suara yang
menakutkan, Cheryl mempertanyakan alasan mereka membangunkan iblis yang sedang
beristirahat dan mengancam akan membunuh mereka semua. Ia menyerang Linda
dengan menancapkan sebuah pensil di dekat mata kaki Linda. Cheryl dapat dengan
mudah melawan Ash dan Scott karena kini ia memiliki kekuatan yang luar biasa.
Scott akhirnya berhasil mendesak Cheryl masuk ke dalam ruang bawah tanah dan
menutup pintunya serta mengunci pintu tersebut dengan rantai. Meskipun pintu
itu tidak bisa lagi dibuka oleh Cheryl, namun pintu itu tidak tertutup rapat
sehingga Cheryl masih bisa melihat keluar dan teman-temannya masih bisa
melihatnya berubah menjadi sosok yang mengerikan, yang tidak berhenti mendengus
seperti monster. Teman-teman Cheryl mulai berdebat soal apa yang harus mereka
lakukan. Rencananya, mereka akan mencoba bertahan sampai matahari terbit,
tetapi iblis dari buku Naturom Demonto tidak akan membiarkan mereka hidup
sampai matahari terbit. Sanggupkah mereka keluar dari pondok terpencil dan
terisolasi itu hidup-hidup?

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

01 Story Logic

The
Evil Dead adalah sebuah film Horror Supranatural yang termasuk dalam kategori
film Kelas B. Dengan mempertimbangkan posisi atau kodrat film ini sebagai
sebuah film hantu dengan dana alakadarnya, maka sudah jelas kita tidak bisa
menyamakannya dengan film-film Kelas A yang disokong oleh rumah produksi,
sutradara, atau artis terkenal Hollywood—seperti The Omen (1976), misalnya, yang juga sama-sama masuk dalam genre
Horror Supranatural. Secara umum, logika dalam The Evil Dead sudah baik. Film
ini menceritakan tentang kekuatan gaib yang muncul di lokasi terpencil dan
hanya melibatkan segelintir orang yang benar-benar terlibat saja. Seringkali,
cerita Horror Supranatural memunculkan sosok hantu yang meneror semua orang,
meskipun orang tersebut sama sekali tidak ada sangkut-pahutnya dengan si hantu.
Dalam film The Grudge (2004),
misalnya, narasinya menjadi kurang logis ketika hantu Kayako Seiki menghantui
siapa saja yang pernah masuk ke dalam rumahnya, meski hanya masuk untuk
menengok atau mengirimkan sesuatu. Ceritanya akan lebih logis apabila Kayako
akan menyerang siapa saja yang mengubah, mengambil, atau memindahkan sesuatu di
dalam rumahnya—karena jika ia harus membunuh setiap orang yang pernah masuk ke
rumahnya, maka seluruh warga kota bisa tewas dibunuhnya. Hal yang tidak logis
semacam ini tidak ditemui dalam The Evil Dead.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Sedari
awal, film ini menegaskan bahwa orang yang diserang hanyalah mereka yang
terlibat secara langsung, yakni kelima sahabat yang secara tidak langsung
membacakan mantra dari buku Naturom Demonto. Sebelumnya, buku itu dibaca oleh
Profesor Raymond Knowby yang tewas diserang iblis dari Naturom Demonto. Ketika
kelima sahabat itu datang ke pondok terpencil, mereka tidak langsung dibunuh
oleh para iblis karena mereka tidak membacakan mantra dari Naturom Demonto.
Hanya saja, Naturom Demonto sendiri memang “mengarahkan” mereka untuk
membacanya—tetapi semua itu tetap sepenuhnya keputusan mereka. Sebelum para
pemuda ini berlibur di pondok, tentunya lokasi itu sudah pernah ditempati orang
lain sebelum dijual. Namun, tidak ada kejadian yang mengancam nyawa karena
tidak ada yang membaca buku Naturom Demonto. Pemilihan lokasi yang terpencil
juga membuat ceritanya menjadi semakin logis karena kemunculan iblis mengerikan
di tengah kota atau di dalam Internet Café [WarNet] tentu saja akan tampak
konyol—coba saja bandingkan dengan hantu Kayako yang muncul di kota dan
rumahnya ada di sebuah pemukiman yang cukup padat. Dengan demikian, The Evid
Dead telah menyediakan konsep dengan batasan-batasan dan aturan yang jelas
sehingga masuk akal sesuai genrenya.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Meskipun
sudah baik dari segi konsep dan gambaran cerita secara umum, film ini memiliki
permasalahan logika pada detil cerita. Pertama, buku Naturom Demonto sudah
pernah dibaca oleh Profesor Raymond yang membuka pintu gaib bagi iblis untuk
masuk ke alam manusia. Karena profesor dan istrinya tewas diserang iblis,
seharusnya iblis tersebut masih berkeliaran di sekitar pondok. Maka, seharusnya
iblis itu menyerang para pemuda secara langsung ketika mereka memutuskan untuk
menginap di sana [kekuatan iblis Naturom Demonto melemah ketika siang hari].
Namun, mereka hanya diganggu oleh buku Naturom Demonto itu sendiri yang
menuntun mereka agar membacanya. Hal ini dibuktikan dengan kemarahan iblis yang
mempertanyakan alasan para pemuda itu “membangunkannya” dengan membacakan
mantra Naturom Demonto. Padahal, ia seharusnya sudah “dibangunkan” sejak lama
oleh Profesor Raymond. Poin narasi ini akan lebih logis jika Ash mengetahui
bahwa sang Profesor berhasil melakukan sesuatu untuk “menidurkan” iblis
tersebut untuk sementara waktu sebelum ia tewas.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Permasalahan
detil lainnya datang dari Cheryl, saudari Ash. Ia adalah satu-satunya anggota
kelompok pemuda tersebut yang datang tanpa kekasih. Ia adalah anggota yang
pertama kali mengalami kejadian gaib ketika tangannya bergerak sendiri
[digerakkan oleh Naturom Demonto] dan menggambar buku Naturom Demonto. Dengan
demikian, Cheryl tahu betul bahwa kawasan tersebut angker dan berbahaya. Cheryl
juga merupakan anggota yang paling ketakutan terhadap pondok itu dan memaksa
Ash segera mematikan rekaman Profesor Raymond. Namun ketika iblis itu akhirnya
bangkit, justru Cheryl berani keluar dari pondok menuju hutan untuk
menyelidikinya sendiri. Dalam film Horror, wajar sekali jika karakternya
melakukan hal yang tidak logis seperti membahayakan dirinya sendiri—seperti yang
dilakukan oleh Cheryl. Namun, ceritanya akan lebih logis jika karakter yang
berani masuk ke dalam hutan untuk menyelidiki adalah karakter lain yang belum
mengalami hal gaib dan tidak percaya pada hal-hal gaib. Dengan demikian, tidak
muncul pertanyaan, “Kenapa dia tiba-tiba menjadi pemberani?”. Masih terdapat
beberapa kejanggalan lagi dalam film ini, tetapi sifatnya tidak sampai merusak
Logika Cerita sepenuhnya.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

02 Story Consistency

Kekurangan
dalam Konsistensi Cerita di film ini berkaitan dengan poin Logika Cerita.
Proses munculnya iblis Naturom Demonto masih kurang konsisten, begitu juga
batasan kekuatannya dan bagaimana caranya merasuki manusia—karena tampaknya
berbeda-beda tergantung karakternya. Namun permasalahan konsistensi yang paling
besar bukanlah terletak pada detil cerita, tetapi pada konsepnya. The Evil Dead
senantiasa mengalami perubahan konsep cerita dari Horror Supranatural yang
serius menjadi Horror Supranatural—Komedi. Bahkan, terdapat adegan-adegan yang
tidak memiliki signifikansi dalam keseluruhan cerita seperti adegan Cheryl yang
diperkosa oleh pohon; sikap Cheryl terlalu “biasa saja” setelah dirinya
diperkosa pohon, dan tidak diketahui apa ambisi iblis Naturom Demonto ini,
kenapa ia bernafsu sekali untuk berhubungan seksual dengan manusia. Apabila sang
iblis hanya ingin memuaskan nafsunya, mengapa ia membunuh perempuan dalam film
ini dan tidak dijadikan budak seks saja? Berkaitan erat dengan Logika Cerita
yang seharusnya mengatur tentang detil aturan dari Universe The Evil Dead,
kekuatan iblis ini senantiasa berubah-ubah. Cheryl yang kerasukan iblis bisa
menjadi sangat kuat—bahkan bisa menjebol pintu—tetapi tidak bisa mendobrak pintu
ruang bawah tanah dan dalam adegan berikutnya ia ternyata bisa mendobrak pintu
tersebut. Meski terdapat permasalahan-permasalahan semacam ini, secara umum
alur cerita film ini sudah konsisten.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

03 Casting Choice and Acting

Salah
satu ciri khas film Kelas B adalah aktor yang bermain merupakan pendatang baru
atau aktor yang tidak terkenal. Bruce Campbell yang berperan sebagai Ash dan
Sam Raimi yang menyutradarai film ini adalah nama-nama populer di industri
perfilman sejak era 1990-an. Sam Raimi semakin populer setelah menyutradari
trilogi Spider-Man. Namun di kala The
Evil Dead dirilis, mereka belum menjadi orang-orang terkenal. Untuk film-film
Kelas B, karena keterbatasan aktor, wajar sekali jika akting mereka berada di
bawah aktor-aktor ternama Hollywood. Namun untuk ukuran sebuah film kelas B,
performa aktor dalam film ini sudah baik.

04 Music Match

Musik
yang digunakan dalam film ini sudah baik karena sudah sesuai dengan nuansa
Horror filmnya alias tidak terkesan “tidak pada tempatnya”.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

05 Cinematography Match

Karena
keterbatasan dana untuk menyediakan kamera profesional, pembuat film ini harus
berpikir lebih kreatif agar peralatan seadanya yang mereka miliki bukan menjadi
halangan, tetapi justru menjadi penunjang film ini. Ketiadaan alat untuk
menstabilkan kamera membuat berbagai adegan tampak goyang dan sengaja direkam
dengan posisi miring. Namun, getaran kamera dan posisinya yang miring justru
mendukung jalannya cerita karena menguatkan nuansa Horror dalam filmnya—misalnya
ketika iblis tak kasat mata bergerak dengan cepat untuk mengintai para pemuda
di dalam pondok. Iblis ini bergerak bagaikan angin karena memang tidak memiliki
wujud. Sehingga, layar yang bergoyang-goyang membuat adegan tersebut tampak
mencekam seolah-olah penonton ada dalam posisi si iblis dan bertanya-tanya apa
yang akan iblis ini lakukan kepada para pemuda tersebut.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

06 Costume Design

Tidak
ada keluhan dalam poin pemilihan kostum.

07 Background/Set Match

Tidak
ada keluhan dalam pemilihan latar belakang. Pondok yang menjadi set utama sudah
sesuai dengan narasinya dan lingkungan pepohonan di sekitarnya telah membuat
pondok itu tampak terisolasi dari keramaian kota.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

08 Special and/or Practical Effects

The
Evil Dead, karena dirilis pada 1981, mengandalkan efek nyata dalam berbagai
adegannya: adegan tubuh yang membusuk secara cepat, tubuh yang dimutilasi, buku
Naturom Demonto yang hidup, dan lain sebagainya. Efek nyata ini tentu saja akan
terlihat “murah” dan palsu jika dinilai menggunakan standar abad 21. Namun jika
kita menggunakan standar 1981 dan mempertimbangkan kenyataan bahwa film ini
dibuat dengan dana yang sangat rendah, maka efek visual film ini sudah sangat
baik. Apalagi jika dibandingkan dengan film-film Kelas B pada masanya, efek
visual dalam The Evil Dead tampak jauh lebih nyata dan stands-out. Bahkan, efek
nyata dalam film ini tampak lebih baik ketimbang efek nyata film-film Kelas B
yang dirilis setelah The Evil Dead. Selain efek visual dalam hal properti yang
sudah baik, presentasi film ini juga baik dengan pencahayaan yang cukup
sehingga penonton tetap dapat menyaksikan detil kejadian di layar. Penggunaan
pencahayaan yang minim serta menjadikan seluruh adegan terlihat sangat gelap
tentu akan lebih sesuai dengan realita [di hutan tidak ada lampu], tetapi film
bukanlah realita dan pencahayaan yang baik diperlukan karena nilai jual film
ini bukan pada kengerian yang “disembunyi-sembunyikan” tetapi justru kengerian
yang “dipamerkan”.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

09 Audience Approval

Mayoritas
penonton memberikan tanggapan yang positif untuk film ini.

10 Intentional Match

The
Evil Dead dimaksudkan untuk membuktikan kapasitas Sam Raimi sebagai sutradara
sekaligus untuk menuangkan kecintaannya, pada kala itu, dengan kisah-kisah
horror. Sam Raimi dan Bruce Campbell sebelumnya telah membuat film pendek
berjudul Within the Woods agar
menarik investor yang mau memberi mereka dana untuk membuat film panjang [film
bioskop, bukan film pendek] serupa Within
the Woods
dengan kualitas yang lebih baik. Dengan berbagai keterbatasan
yang menghambat dalam proses pembuatan The Evil Dead, pada akhirnya film
tersebut telah berhasil menyajikan visi sang sutradara dengan baik. Tidak hanya
itu, The Evil Dead menjadi salah satu film Horror terbaik [film ini disukai
oleh penulis Stephen King yang membantu agar film tersebut menjadi sukses] dan
melejitkan nama Sam Raimi sebagai sutradara dan Bruce Campbell sebagai aktor.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

ADDITIONAL CONSIDERATIONS

[Lima poin tambahan ini bisa menambah dan/atau mengurangi
sepuluh poin sebelumnya. Jika poin kosong, maka tidak menambah maupun
mengurangi 10 poin sebelumnya. Bagian ini adalah pertimbangan tambahan
Skywalker, maka ditambah atau dikuranginya poin pada bagian ini adalah hak
prerogatif Skywalker, meskipun dengan pertimbangan yang sangat matang]

01 Skywalker’s Schemata

The
Evil Dead menjadi semacam mimpi saat demam [fever dream] dalam hidup saya
karena saya merasa bahwa film ini pernah ditayangkan di salah satu satisun TV
di sore hari—yes, bukan malam hari, padahal film ini dikhususkan untuk penonton
17 tahun ke atas. Samar-samar saya ingat pernah menonton film dengan karakter
Ash yang menghadapi iblis dari sebuah buku dan akhirnya terlempar ke dimensi
lai di masa lalu. Ternyata, yang saya tonton itu adalah Evil Dead II yang secara kasar [loosely] menceritakan kembali
kejadian di film pertama [karena permasalahan hak cipta, Raimi tidak bisa
melanjutkan cerita dari film pertama] dan melanjutkannya dengan menghadirkan
anak perempuan Profesor Raymond yang datang ke pondok untuk menyelidiki kasus
menghilangnya sang ayah. Karena reka ulang The Evil Dead dalam Evil Dead II inilah saya merasa “I’ve seen this before—udah pernah lihat,
deh, kayaknya,” selama saya menonton The Evil Dead. Padahal, saya baru menonton
film ini untuk pertama kalinya pada tahun 2020. Masa pandemi Corona adalah awal
mula saya lebih banyak Streaming film ketimbang membeli DVD—bukan karena saya
lebih suka Streaming, tetapi memang terkendala akses dan kondisi finansial yang
merosot tajam sehingga saya menyimpulkan bahwa Streaming lebih ekonomis untuk
saat ini. Salah satu alasan saya akhirnya menonton The Evil Dead adalah karena
saya ingin sekali membuktikan apakah film yang ditonton sewaktu kecil dulu
adalah fever dream atau sungguhan, dan kebetulan film ini tersedia lewat Streaming.
Akhirnya saya download film ini dan saya tonton seserius mungkin.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Saya
dapat simpulkan bahwa The Evil Dead adalah salah satu film Horror Supranatural
terbaik yang pernah dibuat—apalagi untuk ukuran sebuah film Horror kelas B.
Alur cerita film ini benar-benar sederhana dan sisi Horror yang dijanjikan
sudah ditampilkan sejak awal sampai akhir. Tidak ada hesitance atau
hambatan/penghalang yang sengaja ditampilkan untuk menggoda [tease] penonton
seperti dalam kebanyakan film Horror. The Evil Dead adalah sebuah film Horror
yang tidak banyak basa-basi, no bullshitstraight to the point. Dengan dana yang
Minimal, Sam Raimi berhasil menyajikan sebuah film Horror yang Maksimal. Efek
visual dalam film ini pun tergolong luar biasa. Bahkan ketika efek itu terlihat
palsu, tetapi tetap berhasil menakut-nakuti penonton—atau setidaknya membuat
penonton merasa jijik. Saya semakin terpukau kepada film ini dan kepada
sutradara Sam Raimi yang berhasil membuat The Evil Dead ketika baru berusia 20
tahun. Saya sendiri belum bisa menciptakan apa-apa yang berarti bahkan setelah
hampir menginjak usia 30 tahun. Jujur saja saya sebenarnya iri kepada
orang-orang hebat yang berhasil berkontribusi besar kepada dunia di usia yang
begitu muda. I give my utmost respect for
Sam Raimi and for
The Evil Dead—I
admire the process and the team’s persistance in presenting one of the best
horror films of all time. Well done, very well done indeed
.

02 Awards

Tidak
ada penghargaan yang penting untuk disebutkan.

03 Financial

The
Evil Dead meraih sukses besar karena dari dana sebesar $375 ribu, film ini
berhasil menjual tiket sebesar $29 juta. Penjualan kaset video film ini juga
sukses, dengan penjualan sebesar £100 ribu hanya dalam minggu pertama penjualan
kaset, mengalahkan penjualan kaset dari film The Shining yang merupakan film Kelas A.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

04 Critics

Mayoritas
kritikus film memberikan tanggapan yang positif untuk film ini.

05 Longevity

Banyak
kalangan yang menyatakan bahwa The Evil Dead merupakan sebuah film
Cult-Classic. Namun sebenarnya, film ini sudah populer sejak awal dirilis dan
tetap populer hingga berusia lebih dari 10 tahun. Sampai artikel ini dirilis,
tanggapan penonton masih tetap positif. Ini menandakan bahwa The Evil Dead
mampu bertahan melawan perubahan zaman.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Final Score

Skor
Asli                     : 9

Skor
Tambahan           : –

Skor
Akhir                  : 9/10

***

***

Edisi Review Singkat

Edisi ini berisi penilaian film menggunakan pakem/standar
penilaian Skywalker Hunter Scoring System yang diformulasikan sedemikian rupa
untuk menilai sebuah karya film ataupun serial televisi. Karena menggunakan
standar yang baku, edisi review Skywalker akan jauh lebih pendek dari review
Nabil Bakri yang lainnya dan akan lebih objektif.

©1981/Renaissance Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

Edisi Review Singkat+PLUS

Edisi ini berisi penilaian film menggunakan pakem/standar
penilaian Skywalker Hunter Scoring System yang diformulasikan sedemikian rupa
untuk menilai sebuah karya film ataupun serial televisi. Apabila terdapat tanda
Review Singkat+PLUS di
bawah judul, maka berdasarkan keputusan per Juli 2021 menandakan artikel
tersebut berjumlah lebih dari 3.500 kata.

Skywalker Hunter adalah alias
dari Nabil Bakri

Keterangan Box Office dan penjualan DVD disediakan oleh The Numbers

©1981/Renaissance
Pictures, New Line Cinema/The Evil Dead/All Rights Reserved.

 

Induk Perusahaan Google Temui Pejabat Pajak Indonesia

Jakarta - Eksekutif senior Alphabet, induk perusahaan Google, dari kantor pusat Asia Pasifik dikabarkan telah bertemu dengan pejabat kantor pajak Indonesia. Demikian dikabarkan sumber terkait yang dikutip detikINET dari Reuters.Kedatangan para bos Alphabet itu adalah...

Agar Tak Dikejar Pajak, Selebgram Hingga Youtubers Bisa Ikut Tax Amnesty

Malang - Selebgram hingga youtubers diincar untuk membayar pajak. Namun, jika mereka selama ini tidak pernah lapor dan membayar pajak, maka bisa mengikuti program tax amnesty yang sedang bergulir saat ini."Kalau mereka sudah lama nggak pernah lapor dan nggak pernah...

Amnesti Pajak Sumbang Kenaikan Rasio Pajak 1,08% Terhadap PDB

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Kadin bidang Kebijakan Moneter, Fiskal, dan Publik, Raden Pardede mengatakan, pelaksanaan amnesti pajak pada tahun ini akan meningkatkan rasio pajak 1,08% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dan ini merupakan bentuk usaha pemerintah agar...

Keluhan Pegawai Pajak untuk Sri Mulyani Soal Penangkapan KPK

Jakarta - Penangkapan pejabat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat dugaan kasus suap memicu kekecewaan banyak pihak, khususnya para pegawai di lingkungan Ditjen Pajak yang selama ini menjunjung...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *