Review Film 101 Dalmatians (1961) Ambisi Wanita Gila Membuat Jaket Bulu Anjing

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

Review Film 101 Dalmatians (1961) Ambisi Wanita Gila Membuat
Jaket Bulu Anjing

Oleh Skywalker HunterNabil Bakri

Edisi Review Singkat+PLUS

“Fifteen.
Fifteen puppies! How marvelous! How marvelous! How perfectly! Oh, the devil
take it, they’re mongrels. No spots! No spots at all! What a horrid little
white rat!”—Cruella

Review berikut menggunakan gambar/foto milik pemegang hak
cipta yang dilindungi doktrin fair use. The following review utilizes
copyrighted pictures under the doctrine of fair use.

Genre             : Fabel—Petualangan
[Animasi Tradisional/Hand-drawn Animation]

Rilis                 :

 

Durasi             : 79 menit

Sutradara       : Clyde Geronimi, Hamilton Luske, Wolfgang Reitherman

Pemeran         : Rod Taylor, Cate
Bauer,
Betty Lou Gerson, Ben Wright, Bill Lee (singing
voice),
Lisa Davis, Martha Wentworth

Episode           : –

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

Sinopsis

Pongo
adalah seekor anjing dalmatian milik seorang musisi amatir yang bernama Roger
Radcliffe. Mereka berdua hidup lajang di sebuah flat yang sempit dan
membosankan. Pongo dengan tegas menyatakan kepada penonton bahwa hidup sebagai
lajang tidaklah penuh sensasi seperti yang diceritakan oleh orang-orang.
Kehidupan para lajang, pada kenyataannya, sangat membosankan. Menurut Pongo,
Roger memiliki wajah yang tampan untuk ukuran manusia dan dia seharusnya sudah
mencari pasangan hidup. Karena Roger sibuk menulis lagu dan tidak mencari
pasangan, Pongo bertekad untuk mencarikan pasangan bagi Roger—sekaligus
baginya. Ketika sedang mengamati jalanan, Pongo melihat seorang gadis cantik
bernama Anita yang membawa anjing dalmatian miliknya, Perdita, ke taman. Pongo
langsung jatuh cinta pada dalmatian milik gadis itu dan ia merasa kalau Roger
pasti akan suka pada gadis pemiliknya. Ia pun segera memaksa Roger berhenti
bermain musik dan mengajaknya ke taman. Sesampainya di taman, Pongo kembali
mencoba “menjodohkan” Roger dan Anita dengan meletakkan topi Roger di samping
Anita. Namun, mereka hanya saling memandang dan Roger mengajak Pongo pulang.
Anjing itu tidak mau melewatkan kesempatan. Maka sebelum Roger menyeretnya
pulang, Pongo menyeret Roger hingga tali pengikat Pongo melilit Roger dan
Anita. Akhirnya, mereka pun terpaksa berkenalan dan menjadi semakin akrab
sampai menikah. Pongo menikah dengan Perdita dan merasa hidup mereka semakin
bahagia.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

Roger
dan Anita tinggal di sebuah rumah yang kecil bersama kedua anjing mereka dan
Nanny yang mengurus rumah mereka. Karena musik ciptaan Roger belum ada yang
laku, mereka semua hidup dengan sederhana. Pongo dan Perdita sangat gembira
karena mereka akan segera memiliki anak-anak anjing. Mendengar kabar bahwa
Perdita akan melahirkan, Cruella De Vil datang berkunjung. Cruella adalah
seorang sosialita kaya raya yang tergila-gila dengan mantel bulu dan merupakan
teman dekat Anita sewaktu kuliah. Ia meminta Anita untuk memberi tahu kalau
anjingnya sudah melahirkan. Tampaknya, Cruella ingin membeli seluruh anak
anjing Pongo dan Perdita. Ketika mengetahui bahwa Perdita melahirkan 15 anak
anjing, Cruella segera meminta Anita untuk menjual mereka berapapun harganya.
Namun, Roger menolak tawaran Cruella dengan tegas. Penolakan itu membuat Cruella
murka dan menyusun rencana jahat untuk menculik kelima belas anak anjing
dalmatian. Perempuan itu lantas memerintahkan dua orang penjahat Horace dan
Jasper untuk menculik anak-anak dalmatian. Ternyata, Cruella ingin membunuh
semua anak anjing dalmatian dan menggunakan kulit mereka untuk membuat mantel
bulu anjing dalmatian. Karena pihak kepolisian kesulitan melacak penculik
anjing, Pongo dan Perdita meminta bantuan dari anjing di seluruh Inggris dengan
Twilight Bark [gonggongan senja]—sebuah pesan berantai yang dikirimkan ke
seluruh pelosok Inggris. Sanggupkah Pongo dan Perdita menyelamatkan anak-anak
mereka sebelum terlambat?

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

01 Story Logic

Konsep
dan narasi dalam film ini sudah logis sesuai dengan genrenya. 101 Dalmatians
adalah sebuah fabel yang artinya film ini bercerita tentang binatang yang
memiliki perilaku seperti manusia. Dengan demikian, adanya anjing yang dapat
mengelabuhi manusia dan menyusun rencana seperti Pongo dan Kolonel adalah hal
yang logis sesuai dengan genrenya. Posisi film ini sebagai sebuah animasi juga
memungkinkan karakter-karakternya menunjukkan ekspresi yang lebih bervariasi
dibandingkan dengan live-action. Bagaimana Tibbs si kucing meregangkan kaki dan
bulunya ketika terkejut, bagaimana Horace selalu ditimpa sial, bagaimana mobil Horace
dan Jasper berderit dan bergoyang-goyang [rattling], bagaimana ada banyak
anjing yang posturnya sangat mrip dengan pemiliknya, dan lain
sebagainya—kesemuanya tidak logis dalam live action, tetapi menjadi logis dalam
film animasi. 101 Dalmatian adalah fabel yang masuk dalam genre
Petualangan—tokoh penting dalam film ini haruslah melakukan sebuah misi yang
mengharuskannya melakukan perjalanan yang jauh dengan berbagai rintangan.
Perjalanan Pongo, Perdita, dan anak-anak anjing dalmatian di film ini sudah
sesuai dengan pola genre Petualangan.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

Selain
sudah logis dari segi konsep, detil cerita dalam film ini juga sudah logis. Hal
ini dapat dilihat dari rangkaian aksi dan reaksi dari karakter-karakternya.
Masing-masing karakter memberikan reaksi yang masuk akal terhadap situasi yang
sedang dihadapi sesuai dengan kepribadian karakter masing-masing. Ketika
Cruella sampai di rumah Anita, Pongo tidak langsung menggeram kepadanya.
Barulah setelah Pongo melihat perilaku Cruella, ia menggeram ketika Cruella
hendak menyentuhnya. Hal ini logis karena Pongo memiliki alasan yang jelas
untuk menggeram. Perbedaan cara Anita dan Roger memperlakukan Cruella pun sudah
logis dan konsisten. Sejak awal, Anita selalu segan kepada Cruella. Bahkan
ketika Cruella hendak membeli anak-anak Perdita, Anita kesulitan menolaknya.
Namun, karakter Roger berbeda. Sejak awal, Roger sudah tidak terlalu menyukai
Cruella sehingga ia sudah curiga kalau Cruella menculik anak-anak anjingnya
sementara Anita tidak percaya kalau Cruella adalah pelakunya. Walau Roger pada
akhirnya berani menolak tawaran Cruella, jelas diperlihatkan bahwa sebenarnya
Roger juga cukup takut terhadap Cruella. Detil “sederhana” seperti Roger yang
tergagap ketika menolak Cruella berhasil menguatkan logika pada detil ceritanya
karena orang yang ketakutan biasanya akan gemetar walau ia bersikap pemberani.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

02 Story Consistency

Alur
cerita film ini sudah konsisten. 101 Dalmatians fokus pada saat sekarang
[present] dan menguraikan narasinya dalam bentuk aksi yang langsung direspons dengan
reaksi—dan begitu seterusnya. Penonton diberi informasi bahwa Cruella adalah
teman lama Anita, tetapi kisah masa lalu mereka tidak dieksplorasi karena akan
merusak tatanan aksi-reaksi yang konsisten. Selain itu, kisah masa lalu Cruella
dan Anita tidak mengubah jalannya cerita. Apalagi, film ini diceritakan dari
perspektif para binatang. Pongo adalah karakter yang membuka film ini dan ia
menyebut Roger sebagai peliharaan [my pet], bukan tuan [my master]. Kisah masa
lalu atau motivasi karakter manusia dalam film ini akan penting jika ceritanya
memang disajikan dari perspektif manusia—seperti dalam 101 Dalmatians versi live-action. Pekerjaan Anita dalam 101 Dalmatians live-action dieksplorasi
karena mengubah jalannya cerita: Anita adalah perancang mantel bulu dalmatian
dan pada akhirnya ia adalah orang yang mengetahui alasan Cruella menculik
anak-anak anjingnya—cara karakter manusia bereaksi dalam versi live-action ini
sangat penting, sehingga wajar jika kisah hidup mereka dieksplorasi. Hal ini
berbanding terbalik dengan versi animasinya. Fokus pada karakter hewan membuat
film ini benar-benar konsisten menceritakan masalah penculikan anjing,
bagaimana Pongo dan Perdita merespons kejadian tersebut, dan bagaimana mereka
menyelesaikan masalah mereka.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

03 Casting Choice and Acting

Para
pengisi suara dalam film ini telah dipilih dengan baik karena berhasil
menghidupkan karakter mereka masing-masing. Para pengisi suara sudah terdengar
cocok menyuarakan para karakter dan terdengar natural. Pengisi suara yang
paling iconic dalam film ini tentunya Betty Lou Gerson yang menjadi pengisi
suara Cruella. Ia dinobatkan sebagai salah satu Disney Legend pada tahun 1996.

04 Music Match

Musik
dalam 101 Dalmatians sudah baik. Berbeda dengan film-film animasi Disney
sebelumnya, 101 Dalmatians bukanlah sebuah film musikal. Maka, musik di dalam
film ini tidak harus menjadi bagian dari dalam dialog—meskipun pada
kenyataannya lagu dalam film ini tetap menjadi bagian penting dalam dialog;
tetapi tidak diperlakukan seperti dialog. Lagu Cruella De Vil, misalnya,
dinyanyikan oleh Roger bukan karena ia berakting musikal dan menggunakan lagu
itu untuk menjelaskan sifat Cruella, tetapi karena ia adalah seorang musisi
yang baru saja mendapat inspirasi untuk menulis lagu tentang Cruella. Ini
adalah cara yang baik dalam menyajikan lagu dan cerita karena meskipun bukan
film Musikal, tetapi lagu yang diperdengarkan tetap efektif mendukung jalannya
cerita. Selain itu, lagu-lagu dalam film ini juga sudah mengikuti gaya
animasinya dengan baik. Maksudnya, gaya animasi dalam 101 Dalmatians adalah
gaya yang kontemporer di tahun 1961, memisahkan film ini dari animasi Disney
sebelumnya yang bergaya klasik—Romantic. Animasi Disney sebelum 101 Dalmatians
murni dilukis dengan tangan, sedangkan 101 Dalmatians menggunakan teknologi
kontemporer mesin Xerox [sejenis mesin foto kopi] untuk mereplikasi dan
mewarnai gambar. Lagu-lagu bernuansa Blues dan Jazz dalam film ini telah sesuai
dengan nuansa kontemporer filmnya karena 1) Genre musik ini sangat berbeda dari
genre animasi sebelumnya yang klasik, dan 2) Musik Blues dan Jazz semakin
populer di era 1960an.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

By the beginning
of the 1960s, genres influenced by African American music such as rock and roll
and soul were part of mainstream popular music. White performers had brought
African-American music to new audiences, both within the US and abroad. In the
UK, bands emulated US blues legends, and UK blues-rock-based bands had an
influential role throughout the 1960s.

Blues performers
such as John Lee Hooker and Muddy Waters continued to perform to enthusiastic
audiences, inspiring new artists steeped in traditional blues, such as New
York-born Taj Mahal.

John Lee Hooker
blended his blues style with rock elements and playing with younger white
musicians, creating a musical style that can be heard on the 1971 album Endless
Boogie. BB King’s virtuoso guitar technique earned him the eponymous title
“king of the blues”. In contrast to the Chicago style, King’s band used strong
brass support from a saxophone, trumpet, and trombone, instead of using slide
guitar or harp. Tennessee-born Bobby “Blue” Bland, like B.B. King, also
straddled the blues and R&B genres.
[Peter
Burton in “
Blues in the 1960s and 1970s” submitted to Workers’ Liberty [.org] on 24 April, 2008 –
8:39]

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa musik dalam 101 Dalmatians sudah berpadu
serasi dengan narasi dan animasinya. Perpaduan yang serasi ini tidak hanya pada
tataran cerita yang saling mendukung/melengkapi, tetapi juga pada tataran nuansa
[the contmemporary spirit/atmosphere of its animation]. Maka tidak mengherankan
jika laman AllMusic menyematkan ulasan positif untuk musik dalam 101 Dalmatians
sebagai berikut:

George Bruns’
score for the 1961 animated classic 101 Dalmatians remains one of the most
spirited Disney soundtracks from the company’s heyday. A playful, jazz-inspired
effort rich in superb action cues, it largely sidesteps the schmaltz and
sentimentality that defines so much of the studio’s musical output. Between the
bebop-influenced writing of the “Overture” and the sprightly piano
improvisations of “A Beautiful Spring Day,” Bruns proves a gifted
interpreter of jazz idioms, and even his large-scale orchestral themes
emphasize brass over strings to further emphasize the music’s bold, dramatic
sensibilities. He’s equally adept with comedy and suspense, mixing them most
effectively on 101 Dalmatians’ most memorable tune, “Cruella de Vil.”
[AllMusic]

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

05 Cinematography Match

Tidak
ada keluhan dalam poin sinematografi. Adegan-adegan penting seperti seberapa
banyaknya jumlah anjing yang dikumpulkan Cruella sudah ditampilkan dengan baik
sehingga penonton tidak mempertanyakan judul film ini “kenapa jumlah anak
anjingnya tidak terlihat seperti 99” karena memang posisi gambar yang
ditampilkan sudah menegaskan seberapa banyak jumlah anak anjingnya. Keadaan
bentang alam yang menjadi rintangan bagi Pongo, Perdita, dan anak-anak anjing
juga sudah diperlihatkan dengan baik sehingga menguatkan keseriusan adegan
Petualangan di dalamnya. Bagaimana mobil Cruella direkam [mobil Cruella di
dalam film adalah miniatur sungguhan yang direkam, lalu digabungkan ke dalam
animasi] sudah mengikuti ciri khas film-film Aksi yang menguatkan ketegangan
adegannya. Cara kamera menampilkan Long-shot
[kebalikan dari Close-up] dari
sudut-sudut kota ke kota secara utuh ketika Twilight Bark menyebar juga sudah
baik, memperlihatkan bagaimana Twilight Bark bekerja dan menyebar ke seluruh
Inggris.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

06 Character Design

Desain
karakter dalam film ini sudah baik karena serasi antar sesama karakter dan
dengan gaya latar belakangnya. Karakter manusia dan binatang di dalam film ini
sudah didesain menggunakan bahasa desain yang sama sehingga sudah terlihat dari
satu universe. Desain karakter dan busana mereka dalam film ini dibuat
minimalis dan tegas. Pakaian yang dikenakan oleh Anita, misalnya, sangat
berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh karakter-karakter perempuan Disney
sebelumnya seperti Snow White, Cinderella, Wendy, dan Aurora yang lebih
kompleks. Karakter dalam film ini dibuat dengan mengimplementasikan ciri khas
karikatur [menonjilkan bagian tertentu dari karakter—misalnya karikatur
Pangeran Charles digambarkan memiliki telinga yang besar karena hal tersebut
sudah diasosiasikan dengan Pangeran Charles [BBC The Human Face]], tetapi tetap memedulikan proporsi anatomi
makhluk hidup. Sebagai contoh, Roger digambarkan memiliki hidung yang mancung
dan besar, tetapi secara umum tubuhnya tetap proporsional. Dengan demikian,
desain karakter Roger tidak akan serealistis Pangeran dalam Cinderella atau Pangeran Philip dalam
Sleeping Beauty, tetapi tidak akan terlalu berbanding terbalik dengan
realita seperti karakter dalam film
Mulan. Karakter-karakter dalam 101 Dalmatians dbuat dengan tarikan
garis yang tegas/kuat dan memiliki kesan seperti sketsa. Hal ini berkaitan juga
dengan ditutupnya departemen tinta dan warna[Ink and Painting Department] yang
akan mereproduksi sketsa dari animator sebelum dilukis di atas sel/cel [
Celluloid—sejenis
plastik untuk membuat animasi atau gambar presentasi]. Desain karakter yang
semacam ini sudah serasi dengan desain latar belakangnya.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

07 Background/Set Match

Latar
belakang dalam film ini sudah baik karena serasi dengan desain karakternya.
Proses penciptaan desain atau gaya untuk latar belakang dalam film ini berkaitan
erat dengan krisis yang sedang dialami oleh Disney setelah mengalami kerugian
akibat Sleeping Beauty. Apabila
Disney masih ingin memproduksi film animasi, studio itu harus menemukan cara
untuk memproduksi film dengan biaya separuh dari anggaran yang biasanya
digunakan untuk membuat film animasi. Disney harus mengurangi jumlah karyawan
di departemen animasi dari sekitar 500 orang menjadi kurang dari 100 orang
saja. Karenanya, studio harus menemukan cara yang efektif dan efisien untuk
memproduksi animasi. Sebelumnya, para animator akan membuat sketsa karakter dan
latar belakang yang akan dikirimkan ke departemen yang berbeda yakni Ink and
Painting Departement. Seluruh sketsa akan direplikasi dan diberi warna dengan
menggunakan tangan oleh pegawai Ink and Painting Departement. Dengan demikian,
kesan “sketsa” dari karakter-karakternya menjadi hilang dan karakter pun
terlihat lebih halus dan lebih “hidup”. Sleeping
Beauty
adalah animasi Disney terakhir yang masih menggunakan jasa pegawai
Ink and Painting Departement. Setelah Sleeping
Beauty
gagal, Disney menutup departemen tersebut dan mengganti tenaga
seniman dengan mesin Xerox. Animator Ub Iwerks berhasil memodifikasi kamera
Xerox untuk mereplikasi gambar dari sketsa langsung ke sel [Celluloid].

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

The studio cut its
animation department after the failure of the very expensive Sleeping Beauty,
resulting in a reduction of staff from over 500 to less than 100. Walt Disney,
who for some years had spent his attention more towards television and his
Disneyland amusement park and less on his animated features, disliked this
development. The “sketchy” graphic style would remain the norm at
Disney for years until the technology improved prior to the release of The
Rescuers. In later animated features, the Xeroxed lines could be printed in
different colors.
[Disney Wiki, disney.fandom.com]

Karena
proses replikasi dilakukan oleh mesin, maka tenaga departemen Ink and Painting
tidak lagi dibutuhkan dan studio bisa menghemat biaya. Masalahnya, mesin ini
tidak memiliki “perasaan” seperti seniman sehingga tidak bisa membedakan garis
anatomi karakter dengan garis “sisa” sketsa. Maka dalam film-film yang
menggunakan teknologi ini dapat dilihat banyak “sisa” sketsa yang masih
“menempel” pada karakter. Namun justru “kekurangan” ini menjadi ciri khas tersendiri
untuk 101 Dalmatians. Film ynag dibuat dengan menyederhanakan proses animasi
ini berbanding terbalik [menegasi] kualitas animasi dalam Sleeping Beauty hingga membentuk gaya unik tersendiri. Latar
belakang film ini pun didesain dengan memadukan garis-garis tegas, sketsa
[garis-garis halus], dan seni abstrak. Sehingga, sama halnya dengan
karakteristik karikatur dalam karakternya, properti yang digambar dalam film
ini pun tidak sama dengan properti asli, tetapi hanya “menyerupai” properti
asli. Dengan kata lain, properti di dalam film ini adalah karikatur dari
properti di dunia nyata. Alasan mengapa desain karakter dan latar belakang
dalam film ini sudah tampak menyatu atau berasal dari satu universe dapat
disimpulkan dengan pernyataan Art Director sekaligus Production Designer 101
Dalmatians, Ken Anderson, yang menyatakan bahwa dirinya akan menggunakan
teknologi Xerography pada karakter dan
latar belakang: “I was going to apply the
same technique to the whole picture
—Saya mau menggunakan teknik yang sama/seragam
untuk keseluruhan film ini.”
[Source]

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

08 Special and/or Practical Effects

Efek
visual dalam film ini sudah baik. Meskipun “kehalusan” animasi Disney yang
sebelumnya tidak bisa ditampilkan oleh 101 Dalmatians, tetapi hal ini justru
memberikan karakteristik yang unik dalam filmnya. 101 Dalmatians telah
memanfaatkan teknologi Xerography dengan baik dan semaksimal mungkin. Walau
film in bernuansa “sketsa” yang lebih kaku dari animasi Disney klasik
sebelumnya, tetapi gerakan karakter dalam film ini sudah halus [smooth]
sehingga tetap tampil life-like seperti animasi populer Disney pada umumnya.
Meskipun menampilkan banyak karakter anak anjing yang memerlukan total 6,469,952
bintik, 101 Dalmatians tidak berbuat “curang” dengan menampilkan karakter yang
sama secara berulang-ulang. Efek khusus penggunaan kendaraan replika yang
digabungkan dengan animasi menggunakan teknik Xerography juga memiliki hasil yang
baik dan menyatu dengan karakter serta latar belakangnya.

09 Audience Approval

101
Dalmatians mendapatkan tanggapan yang positif dari kalangan penonton. Meskipun
animasi film ini tidak se”halus” animasi Disney sebelumnya, tetapi hal itu
justru menjadi daya tarik tersendiri dan penonton secara umum menyukai animasi
serta narasi dalam film ini yang dinilai lebih menghibur dibandingkan Sleeping Beauty yang dirilis sebelumnya.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

10 Intentional Match

101
Dalmatians menjadi sebuah animasi yang sukses besar baik dari segi finansial
maupun dari respon kritikus film. Film ini telah sesuai dengan visi para
penciptanya dalam memaksimalkan teknologi Xerox di tengah masa-masa sulit
bisnis animasi. Desain karakter, latar belakang, hingga musik dalam film ini
sudah sesuai dengan visi masing-masing penanggung jawab—khususnya
Ken Anderson yang menginginkan karakter serta latar belakang film ini
sama-sama diproduksi menggunakan teknologi Xerox. Mengulang jasa
Cinderella di tahun 1950 yang menyelamatkan studio Disney setelah
banyak kegagalan semasa Perang Dunia, 101 Dalmatians juga berjasa menyegarkan
kembali dunia animasi Disney setelah kegagalan finansial yang luar biasa dari Sleeping Beauty. Sleeping Beauty, oleh banyak seniman Disney, dinobatkan sebagai
“akhir dari sebuah era—The end of an era
sementara 101 Dalmatians adalah “awal dari era yang baru—the dan of a new era”. 101 Dalmatian harus tampil kontemporer,
lebih segar, dan “berbeda” dari animasi Disney sebelumnya—tetapi harus tetap
memiliki karakteristik Disney yakni implementasi teknologi animasi yang
maksimal dan desain karakter yang memiliki pola berulang dan membentuk ‘ciri
khas Disney’—yang bahkan tersedia
tutorialnya.
Animator dan sutradara Disney,
Aaron Blaise,
bahkan membuat sebuah
video tentang desain
karakter khas Disney. Dari berbagai aspek yang telah disebutkan, 101 Dalmatians
berhasil mencapainya.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

Namun,
101 Dalmatians diproduksi ketika Walt Disney masih hidup [sebagai produser] dan
ide awal untuk mengangkat kisah 101 Dalmatians dari buku pun bermula dari Walt
Disney. Yang menjadi masalah adalah, meskipun film ini sudah sesuai dengan visi
para animator, film ini sama sekali tidak sesuai dengan visi Walt Disney. Ia
menginginkan animasi yang sama indahnya dengan animasi-animasi sebelumnya
seperti
Snow White, Pinocchio, Bambi, Cinderella, dan yang lainnya. Bahkan, meskipun Sleeping Beauty merupakan sebuah kegagalan finansial, film itu
tetap berhasil memenuhi visi Walt Disney dari segi artistik. Tentunya
ketidaksesuaian semacam ini masih bisa dikesampingkan—tapi pada kenyataannya, khusus
untuk 101 Dalmatians, hal ini tidak bisa dikesampingkan. Film ini benar-benar
tidak sesuai dengan visi Walt Disney sampai-sampai Walt Disney tidak bisa
memaafkan Art Director sekaligus Production Designer Ken Anderson yang
memaksimalkan penggunaan Xerox. Ketika Ken Anderson menyarankan penggunaan
Xerox kepada Disney, Walt Disney akhirnya hanya membebaskan para animator
dengan berat hati, “Ah, yeah, yeah, you can fool around all you want to—[dalam
bahasa Indonesia kurang lebih, “Terserah, deh!”]”.
[Source]
Meskipun 101 Dalmatians sukses secara finansial dan sesuai dengan visi para
animator, Walt Disney akhirnya tetap menyatakan, “We’re never gonna have one of those goddamned things” referring
to 
Dalmatians and its technique, and stated, “Ken’s
never going to be an art director again
[Terjemahan Indonesia]Kita
tidak akan membuat film sialan seperti [101 Dalmatians] itu lagi. Ken tidak
boleh menjadi Art Director lagi.”
[Source] Meski
Ken Anderson tetap menjadi Art Director untuk film Disney berikutnya, The Sword in the Stone, dan Disney
akhirnya dapat “menerima” atau “mengikhlaskan” ketiadaan visi-nya dalam 101
Dalmatians lewat pernyataan Ken Anderson:

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

He looked very
sick. I said, “Gee, it’s great to see you, Walt,” and he said,
“You know that thing you did on 
Dalmatians.” He didn’t say anything else, but he just gave me this
look, and I knew that all was forgiven and in his opinion, maybe what I did
on 
Dalmatians wasn’t so
bad. That was the last time I ever saw him. Then, a few weeks later, I learned
he was gone
.[Source]
[Terjemahan Indonesia] Dia [Walt Disney] terlihat sakit parah. Saya berkata,
“Senang bisa bertemu denganmu, Walt.” Beliau kemudian berkata, “Kamu tahu
perbuatanmu di film Dalmatians itu.” Beliau tidak bicara apapun lagi, tetapi
beliau menatap saya dan saya tahu bahwa saya sudah dimaafkan, dan dalam
pandangan Beliau, mungkin yang saya perbuat dalam Dalmatians tidaklah buruk.
Itu adalah terakhir kalinya saya melihat Beliau karena Beliau meninggal
beberapa minggu kemudian.
[Sumber]

ADDITIONAL CONSIDERATIONS

[Lima poin tambahan ini bisa menambah dan/atau mengurangi sepuluh
poin sebelumnya. Jika poin kosong, maka tidak menambah maupun mengurangi 10
poin sebelumnya. Bagian ini adalah pertimbangan tambahan Skywalker, maka ditambah
atau dikuranginya poin pada bagian ini adalah hak prerogatif Skywalker,
meskipun dengan pertimbangan yang sangat matang]

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

01 Skywalker’s Schemata

101
Dalmatians adalah salah satu animasi Disney terbaik yang pernah saya tonton.
Film ini memiliki porsi Aksi dan Petualangan yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan film-film Disney sebelumnya. Selain itu, tidak ada lagu yang tiba-tiba
muncul di tengah-tengah adegan seperti film-film Musikal. Saya merasa style
animasi dalam film in sangat unik dan memiliki charm/pesona tersendiri. Tidak
hanya itu, film ini pun penuh dengan aksi lucu. Saya menonton kembali film ini
untuk menulis artikelnya—dan lagi-lagi tertawa melihat cara gila Cruella
mengendarai mobilnya. Selama saya menonton film ini sewaktu kecil, saya yakin
betul kalau film ini adalah salah satu Masterpiece kebanggaan Walt Disney.
Apalagi, 101 Dalmatians adalah satu dari 13 judul film yang rutin dirilis ulang
sebagai Harta Karun Disney dalam Platinum Edition, Diamond Edition, dan Signature
Collection—posisinya di dalam koleksi Signature membuat saya semakin yakin
kalau film ini adalah Masterpiece Disney karena terdapat tambahan tanda tangan
Walt Disney di setiap kemasannya. Namun saya salah besar karena ternyata Walt
Disney “membenci” film ini. Padahal, film ini adalah “penyelamat” studio
animasi dari kebangkrutan—apalagi Walt Disney kala itu sudah fokus mengerjakan
hal lain yakni mengembangkan stasiun televisi dan taman hiburan Disneyland
serta Disney World. 101 Dalmatians baru dinyatakan sebagai “Harta Karun”
setelah Walt Disney meninggal, persis seperti yang dilakukan oleh perusahaan
Disney terhadap film
Fantasia yang merupakan kegagalan tetapi diiklankan sebagai sebuah
keberhasilan dan sebuah Masterpiece. Namun yang unik, berbeda dengan Fantasia
yang kegagalannya seperti ditutup-tutupi, Disney tidak menutup-nutupi kenyataan
bahwa Walt Disney sendiri tidak menyukai film ini. Namun di setiap narasinya,
studio Disney selalu menyertakan kutipan bahwa di akhir hayatnya Walt Disney
telah berubah menyukai 101 Dalmatians.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

101
Dalmatian benar-benar sebuah awal dari era yang baru sementara Sleeping Beauty adalah sebuah akhir dari
era animasi Disney yang penuh keajaiban dan sudah dimulai sejak 1937 oleh Snow White. Besar kemungkinan Walt
Disney masih belum rela animasi yang dicintainya dan membuka karier untuknya,
akhirnya hilang digantikan oleh sesuatu yang baru dan menurutnya memiliki nilai
artistik yang lebih rendah. Saya sendiri memiliki dugaan bahwa Walt Disney
masih sulit menerima kenyataan bahwa Sleeping
Beauty
yang ia buat dengan penuh pengorbanan dan tak peduli akan besarnya
biaya, tidak berhasil memberikan hasil finansial yang memuaskan; sementara 101
Dalmatians yang lahir dari keterbatasan dan penuh kekurangan [di mata Walt]
justru disukai oleh penonton dan memberikan keuntungan yang besar kepada
perusahaan. Terlepas dari semua itu, 101 Dalmatians pada akhirnya berhasil
menjadi sebuah hiburan Disney dengan nuansa baru nan segar. Nuansa
“kontemporer” dalam film ini benar-benar kental sampai-sampai animator Andreas
Deja menyatakan bahwa sampai saat ini [2000-an], 101 Dalmatians masih merupakan
animasi Disney yang paling “kontemporer”. Umumnya, animasi Disney bercerita
tentang dongeng yang terjadi ratusan tahun sebelumnya. Namun, 101 Dalmatians
bercerita tentang sebuah kejadian di sekitar akhir 1950-an dan awal
1960-an—latar yang kontemporer. Sebelumnya, Disney pernah melakukan hal yang
sama ketika merilis Dumbo yang
berlatar waktu 1940-an atau sama dengan waktu filmnya dirilis. Film itu pun
sukses besar setelah Walt Disney gagal meraih keuntungan dari Fantasia. 101 Dalmatians is a unique Disney feature—it
is an old movie that is always new
.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

02 Awards

Film
ini tidak menerima banyak penghargaan. Di masa lalu, sebelum Academy Awards
menghadirkan kategori Animasi Terbaik, penghargaan penting untuk film animasi
memang belum terlalu banyak. Film-film Disney yang dinominasikan pun umumya
film-film Musikal untuk musiknya, bukan filmnya secara keseluruhan. Berdasarkan
laporan
IMDb, film ini meraih
penghargaan Best Animated Film dari BAFTA pada tahun 1962.

03 Financial

101
Dalmatians sukses secara finansial. Dari dana sebesar $3.6 juta, film ini
berhasil menjual tiket sebesar $28.7 juta ketika pertama kali dirilis. Setelah
beberapa kali dirilis ulang pada 1969, 1979, 1985, 1991, dan 1995, total
penjualan tiket film ini mencapai $303 juta. Apabila angka ini disesuaikan
dengan perubahan nilai mata uang [2010-an], maka angka tersebut setara dengan
sekitar $900 juta.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

04 Critics

Mayoritas
kritikus memberikan tanggapan yang positif untuk film ini.

05 Longevity

101
Dalmatians masih tetap populer dan relevan bahkan setelah berusia lebih dari 10
tahun. Film ini tetap mendapatkan tanggapan yang positif dari kalangan penonton
generasi baru, sama seperti ketika film ini pertama kali dirilis. Selain itu,
posisi 101 Dalmatians sebagai bagian dari Disney juga membuatnya senantiasa
diiklankan oleh Disney dan terus dirilis ulang dalam berbagai format
menyesuaikan zaman.

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

Final Score

Skor
Asli                     : 9.5

Skor
Tambahan           : –

Skor
Akhir                  : 9.5/10

***

Spesifikasi Optical Disc

[Cakram Film DVD/VCD/Blu-ray Disc]

Judul               : 101 Dalmatians [2 Disc Platinum
Edition]

Rilis                 : 6 Desember 2007

Format             : VCD [|||]

Kode
Warna    : PAL

Fitur                : –

Support           : Windows 98-10 [VLC Media Player],
DVD Player, HD DVD Player [termasuk X-Box 360]
, Blu-ray Player [termasuk PS 3 dan 4], 4K UHD Blu-ray Player [termasuk PS 5].

Keterangan Support:

[Support VCD, DVD, Kecuali Blu-ray dan 4K]

[Support VCD, DVD,
Termasuk Blu-ray, Kecuali 4K]

[Support Semua
Termasuk 4K]

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

***

Edisi Review Singkat

Edisi ini berisi penilaian film menggunakan pakem/standar
penilaian Skywalker Hunter Scoring System yang diformulasikan sedemikian rupa
untuk menilai sebuah karya film ataupun serial televisi. Karena menggunakan
standar yang baku, edisi review Skywalker akan jauh lebih pendek dari review
Nabil Bakri yang lainnya dan akan lebih objektif.

Edisi Review Singkat+PLUS

Edisi ini berisi penilaian film menggunakan pakem/standar
penilaian Skywalker Hunter Scoring System yang diformulasikan sedemikian rupa
untuk menilai sebuah karya film ataupun serial televisi. Apabila terdapat tanda
Review Singkat+PLUS di
bawah judul, maka berdasarkan keputusan per Juli 2021 menandakan artikel
tersebut berjumlah lebih dari 3.500 kata.

Skywalker Hunter adalah alias
dari Nabil Bakri

Keterangan Box Office dan penjualan DVD disediakan oleh The Numbers

©1961/Disney/101 Dalmatians/All Rights Reserved.

 

Induk Perusahaan Google Temui Pejabat Pajak Indonesia

Jakarta - Eksekutif senior Alphabet, induk perusahaan Google, dari kantor pusat Asia Pasifik dikabarkan telah bertemu dengan pejabat kantor pajak Indonesia. Demikian dikabarkan sumber terkait yang dikutip detikINET dari Reuters.Kedatangan para bos Alphabet itu adalah...

Agar Tak Dikejar Pajak, Selebgram Hingga Youtubers Bisa Ikut Tax Amnesty

Malang - Selebgram hingga youtubers diincar untuk membayar pajak. Namun, jika mereka selama ini tidak pernah lapor dan membayar pajak, maka bisa mengikuti program tax amnesty yang sedang bergulir saat ini."Kalau mereka sudah lama nggak pernah lapor dan nggak pernah...

Amnesti Pajak Sumbang Kenaikan Rasio Pajak 1,08% Terhadap PDB

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Kadin bidang Kebijakan Moneter, Fiskal, dan Publik, Raden Pardede mengatakan, pelaksanaan amnesti pajak pada tahun ini akan meningkatkan rasio pajak 1,08% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dan ini merupakan bentuk usaha pemerintah agar...

Keluhan Pegawai Pajak untuk Sri Mulyani Soal Penangkapan KPK

Jakarta - Penangkapan pejabat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat dugaan kasus suap memicu kekecewaan banyak pihak, khususnya para pegawai di lingkungan Ditjen Pajak yang selama ini menjunjung...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *