Review The Mummy Returns (2001) Kembalinya Mumi Membangkitkan Pasukan Anubis [The Return of Imhotep to Control The Scorpion King’s Army of Anubis]

 

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

Review The Mummy Returns (2001) Kembalinya Mumi Membangkitkan
Pasukan Anubis [The Return of Imhotep to
Control The Scorpion King’s Army of Anubis
]

Oleh Skywalker Hunter

Review berikut menggunakan gambar/foto milik pemegang hak
cipta yang dilindungi doktrin fair use. The following review utilizes
copyrighted pictures under the doctrine of fair use.

Genre             : Horror
(Supranatural)—Petualangan

Rilis                 : 4 Mei 2001

Durasi             : 129 menit

Sutradara       : Stephen Sommers

Pemeran         : Brendan Fraser, Rachel Weisz, John Hannah, Arnold
Vosloo
, Oded Fehr, Patricia Velásquez, Freddie Boath, Alun Armstrong, The Rock

Episode           : –

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

Sinopsis

Pada
tahun 3067 SM, Scorpion King meminta bantuan Dewa Anubis untuk mengalahkan
musuh-musuhnya dan menguasai dunia. Apabila Anubis bersedia mengabulkan
permintaannya, maka Scorpion King bersedia menyerahkan jiwanya untuk mengabdi
kepada Anubis. Sang dewa mengabulkan permintaan Scorpion King. Ketika Scorpion
King nyaris tewas karena sengatan terik padang pasir, Anubis menciptakan Ahm
Shere, sebuah Oasis dengan piramida megah di tengah padang pasir. Oasis
tersebut menyelamatkan nyawa Scorpion King yang kini memiliki kekuatan dahsyat
dan sebuah pasukan gaib pemberian Dewa Anubis. Berkat bantuan sang Dewa,
Scorpion King berhasil menyapu habis pihak-pihak yang dianggapnya sebagai
musuh. Setelah keinginannya terpenuhi, Scorpion King harus menepati janjinya.
Maka, Dewa Anubis mengambil jiwa Scorpion King. Namun, sisa-sisa peninggalan
Scorpion King tetap ditinggalkan dan menciptakan sebuah legenda: barang siapa
berhasil membunuh Scorpion King, akan mewarisi pasukan Anubis dan berhak
memerintahkan pasukan Anubis sesuka hati. Untuk memanggil Scorpion King, diperlukan
artefak berupa gelang Anubis (The Bracelet of Anubis) yang telah ditemukan oleh
Rick dan Evelyn. Setelah selamat dari serangan Imhotep, Rick dan Evelyn menikah
dan memiliki seorang putera bernama Alex. Mr. Hafez, seorang kurator museum
yang juga merupakan kenalan Evelyn, berniat menghidupkan kembali Imhotep dan
memberinya kesempatan untuk mengalahkan Scorpion King agar pasukan Anubis dapat
dikendalikan oleh Imhotep. Ia pun memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi
keluarga O’Connell dan mengambil The Bracelet of Anubis.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

Mr.
Hafez bekerja sama dengan Meela Nais untuk membangkitkan kembali Imhotep. Meela
adalah reinkarnasi dari Anck-Su-Namun. 
Karena anak buahnya gagal mengabil The Bracelet of Anubis, Mr. Hafez dan
Meela datang sendiri ke London untuk mengambil gelang tersebut. Rencana mereka
diketahui oleh Ardeth Bay sang pemimpin orang-orang Medjai yang bergegas
membantu keluarga O’Connell. Alex yang penasaran dengan Bracelet of Anubis
tanpa sengaja mengaktifkan gelang tersebut yang terpasang di tangannya dan
tidak bisa dilepas. Maka, anak buah Mr. Hafez menculik Alex. Gelang Anubis akan
memberi tahu lokasi Ahm Shere kepada siapapun yang memakainya. Imhotep lantas
menggunakan Alex sebagai penunjuk jalan. Agar kedua orangtuanya tidak
kehilangan jejak, Alex selalu meninggalkan petunjuk setiap kali pasukan Imhotep
berhenti. Rick O’Connell meminta bantuan teman lamanya, Izzy Buttons, untuk
mengatarnya beserta Evelyn, Jonathan, dan Ardeth untuk menyusul Imhotep. Izzy
mengantarkan mereka menggunakan sebuah balon udara yang telah dimodifikasi.
Ketika O’Connell nyaris mencapai lokasi puteranya, Imhotep mengetahui rencana
O’Connell dan menggunakan kekuatannya untuk menciptakan tsunami untuk
menenggelamkan O’Connell. Balon udara Izzy lantas terdampar dan mengalami
kerusakan parah. Beruntung, mereka terdampar tepat di lokasi Oasis Ahm Shere.
Mereka kini harus segera menemukan Alex sebelum matahari terbit tepat pada hari
keramat kebangkitan Scorpion King, karena apabila gelang Anubis tidak
dikembalikan ke dalam piramida sebelum tersentuh cahaya matahari, maka gelang
itu akan membunuh siapa saja yang memakainya. O’Connell juga harus bergegas
menghentikan Imhotep sebelum ia membangunkan Scorpion King dan melawannya untuk
mengambil alih paskan Anubis. Untuk berjaga-jaga, Ardeth telah memerintahkan
orang-orang Medjai untuk bersiap menghalau kebangkitan pasukan Anubis.
Berhasilkah Rick menghalangi kebangkitan sebuah pasukan gaib yang memiliki
kekuatan tanpa batas?

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

01 Story Logic

Berbeda
dengan
The Mummy, narasi dalam The Mummy Returns tidak logis sesuai genrenya.
Sama halnya dengan film pertamanya, film ini merupakan sebuah Horror
Supranatural yang dipadukan dengan Petualangan. Namun, sisi Horror Supranatural
dalam film ini tidak lagi sekuat film pertamanya. Penjelasan-penjelasan
mengenai The Scorpion King dan kebangkitan Imhotep dalam The Mummy Returns
tidak lagi disajikan dalam koridor Horror Supranatural tetapi lebih mendekati
Genre Fantasi. The Mummy Returns menceritakan sebuah sejarah Fantasi dengan
dunia yang baru, kekuatan sihir, dan monster yang identik dengan genre Fantasi.
Bahkan, balon udara yang ditumpangi Rick O’Connell juga tidak masuk akal dalam
genre Horror Supranatural yang berlatar waktu 1930-an, namun bisa jadi logis
dalam sebuah film Fantasi. Walaupun The Mummy Returns jelas-jelas melanjutkan
cerita dari The Mummy, namun logika
cerita dalam film ini justru lebih menyerupai Clash of the Titans dari segi genre. Detil cerita dalam film ini
juga banyak yang tidak logis, misalnya kemampuan orang-orang Medjai membantai
musuh Supranatural tanpa satu korban jiwa pun dan kemunculan Mummy di
tengah-tengah kota London. Dalam film Horror An American Werewolf in London, kemunculan manusia serigala di kota
London menyebabkan kegemparan besar. Hal serupa dapat dijumpai dalam The Wolfman, bahkan kejahatan Death
Eater dalam
Harry Potter and
the Half-Blood Prince
juga
menggemparkan dunia Muggle karena kejadian-kejadian tidak wajar itu memengaruhi
kehidupan manusia.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

Unsur
Petualangan dalam The Mummy Returns, walau tetap kuat, terlalu ditutupi
(overwhelmed) oleh unsur Komedi yang membuat ketegangan Petualangan dalam film
ini menjadi jauh berkurang. Dalam The
Mummy
, terdapat unsur Komedi yang kuat tetapi tidak sampai menutupi
ketegangan unsur Horror dan Petualangan dalam filmnya. Sebagai contoh, Hassan
si penjaga penjara dalam The Mummy
berperilaku konyol dan gegabah saat memungut kumbang pemakan daging yang ia
sangka sebagai emas biru. Namun, kekonyolan Hassan tidak lantas mengurangi
seberapa seriusnya ancaman dari kumbang pemakan daging di keseluruhan film
tersebut. Sebaliknya, kemunculan kumbang ini seolah hanya menjadi tambahan
tidak penting dalam The Mummy Returns sekadar untuk memperkuat koneksi antara
The Mummy Returns dengan The Mummy.
Para Mummy dalam The Mummy juga tidak
lepas dari sentuhan Komedi, namun mereka tetap memberikan ancaman yang nyata
dan tidak menghilangkan nuansa Horror filmnya. Dalam The Mummy Retuns, sentuhan
Komedi benar-benar membuat para Mummy dan sosok misterius “kejam” penghuni
Oasis Ahm Shere menjadi tidak begitu mengancam bagi tokoh utama. Hanya para
pasukan Anubis yang muncul sebagai ancaman yang serius sehingga adegan
pertempuran terakhir dalam film ini adalah satu-satunya adegan yang benar-benar
serius—pun (Spoiler) tidak ada satu pun orang Medjai yang ditampilkan tewas
melawan pasukan Anubis sehingga terlihat bahwa pasukan ini tidak begitu
mengancam. Bahkan dengan jumlah banyak sekalipun, pasukan gabungan dari seluruh
dunia bisa menggunakan bom untuk memusnahkan pasukan Anubis sembari menunggu
The Scorpion King dikalahkan. Selain itu, terdapat terlalu banyak kemiripan
dengan The Mummy yang disengaja untuk
mengundang tawa (pilar yang runtuh seperti rak buku, ketidaktahuan akan cara
membaca lambang burung bangau) dan kebetulan-kebetulan yang tidak wajar namun
dijadikan wajar sebagai “Takdir”.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

02 Story Consistency

Alur
cerita film ini tidak konsisten. The Mummy Returns terlalu banyak membahas
mengenai The Scorpion King yang pada akhirnya tidak benar-benar berdampak pada
keseluruhan ceritanya terutama di bagian akhir filmnya. Dalam eksplorasi
sejarah Scorpion King, kisah tersebut hanya membahas bagaimana Scorpion King
memiliki pasukan Anubis, tetapi tidak dijelaskan bagaimana ia bisa memiliki bentuk
menyerupai monster dan apa saja kekuatannya—dua hal yang akan sangat penting
untuk dipelajari oleh Rick dan Imhotep supaya dapat mengalahkan Scorpion King
di bagian akhir The Mummy Returns. Detil seperti tombak Osiris (Spear of
Osiris) yang dapat digunakan untuk membunuh Scorpion King bahkan tidak
dieksplorasi di awal dan jatuh ke tangan tokoh penting dalam film ini secara
kebetulan. Dalam film The Mummy,
semua artefak yang ditemukan oleh karakter kunci bukan didapatkan secara
“kebetulan”. Rick memiliki kunci untuk membuka peti Imhotep karena ia
menemukannya di Hamunaptra. Kunci itu jatuh ke tangan Jonathan karena ia
mencurinya dari Rick yang membuat Evelyn berkeinginan untuk mencari Hamunaptra.
Kejelasan semacam ini tidak ditemukan dalam The Mummy Returns.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

Terdapat
beberapa percabanan cerita yang dieksplorasi dalam The Mummy Retuns. Film ini
membahas mengenai hubungan masa lalu Evelyn dengan dirinya sebagai puteri Seti
I di masa lalu. Pengungakapan ini, walau menarik, sebetulnya sama sekali tidak
diperlukan untuk melanjutkan narasi dalam film ini. Evelyn adalah seorang ahli
sejarah dan telah mempelajari berbagai teks kuno untuk mengetahui seluk-beluk
dunia Mesir Kuno dan Mumi. Apalagi, ia telah memiliki pengalaman mengalahkan
Mummy dalam The Mummy. Sehingga,
penjelasan bahwa Evelyn adalah “reinkarnasi” puteri Mesir menjadi tidak
diperlukan. Apabila seluruh adegan Evelyn masa lalu dihilangkan dan digantikan
dengan adegan Evelyn menerjemahkan naskah kuno, maka inti ceritanya tidak akan
berubah dan justru membuat alur ceritanya lebih masuk akal dan konsisten dengan
film pertama. Ada juga poin cerita mengenai ambisi Imhotep untuk menguasai
pasukan Anubis. Padahal, dalam film pertama dan dalam adegan akhir The Mummy
Returns, jelas sekali bahwa ambisi Imhotep sebenarnya adalah membangkitkan Anck-su-namun.
Ketika Anck-su-namun telah dibangkitkan, maka sebenarnya tidak ada lagi alasan
bagi Imhotep untuk mengejar kekuasaan yang lebih besar karena toh dirinya sudah
memiliki kekuatan sihir yang luar biasa. Ambisi besar Imhotep dipertegas di
bagian akhir The Mummy Returns ketika (Spoiler) akhirnya Imhotep melepaskan
semua ambisi hidupnya karena menyadari bahwa cinta Anck-su-namun tidak sebesar
cintanya. Akan lebih logis dan konsisten apabila Imhotep tidak bisa membangkitkan
Anck-su-namun karena sebuah alasan (misalnya karena yang akan dibangkitkan
bukan berupa jasad, tetapi jiwanya dimasukkan ke tubuh orang lain dan menukar
poisi jiwa kedua orang tersebut) dan harus memiliki kekuatan Scorpion King
untuk membangkitkannya. Ketika poin-poin cerita seperti kisah masa lalu Evelyn
yang sejak dulu berseteru dengan Anck-su-namun “dipaksakan”, maka ada sebuah
keharusan untuk mengeksplorasinya dan menjadikan alur cerita film ini tidak
konsisten. Konsep besar Petualangan dalam film ini menegasi konsep di film
pertama sekaligus dalam genre Petualangan itu sendiri. Keberhasilan yang diraih
oleh Rick dan Evelyn ternyata bukan berkat kemampuan mereka sendiri, tetapi
karena “takdir”. Tentu saja hal semacam ini tidak sesuai dengan standar genre
Petualangan karena Indiana Jones berhasil mengalahkan musuhnya bukan karena
“takdir” tetapi karena “tekad”.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

Lantas,
bagaimana menjelaskan kemunculan Meela Nais yang merupakan reinkarnasi Anck-su-namun
serta bagaimana ia bertemu dengan Mr. Hafez? Kemudian, apa sebenarnya ambisi
Mr. Hafez? Mengapa ia ingin membangkitkan Imhotep? Bagaimana ia bisa kenal
dengan Evelyn dan memiliki hubungan baik dengannya tetapi seolah tidak kenal
dengan Evelyn? Masalah-masalah seperti ini banyak ditemui dalam The Mummy
Returns.

03 Casting Choice and Acting

Pemilihan
aktor dalam film ini sebenarnya sudah baik. Namun, akting masing-masing pemeran
terlihat kaku atau menurun dari film sebelumnya. Seringkali akting seorang
aktor menjadi buruk bukan karena dirinya tidak pandai akting tetapi karena
dialog dan narasi yang lemah atau bermasalah. Dalam kasus The Mummy Returns,
telah kita bahas bahwa narasi dalam film ini memiliki banyak masalah.
Permasalahan narasi tersebut berdampak pada akting para pemerannya karena
mereka harus menampilkan dialog yang kurang baik dan tidak natural. Akting Patricia
Velásquez, misalnya, tidak berubah antara ketika dirinya menjadi Meela Nais
ataupun Anck-Su-Namun. Padahal, “perbedaan” di dalam diri mereka inilah yang
membuat Imhotep tetap ingin membangkitkan kembali jiwa Anck-Su-Namun karena
Meela hanyalah serupa dalam hal fisik. Kesamaan akting Paticia di sini bukan
karena aktingnya jelek, tetapi karena memang konsep perbedaan sifat ini tidak
dieksplorasi dalam The Mummy Returns.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

04 Music Match

Tidak
ada keluhan di pemilihan musik.

05 Cinematography Match

Tidak
ada keluhan dalam poin sinematografi.

06 Costume Design

Tidak
ada keluhan dalam poin pemilihan kostum.

07 Background/Set Match

Tidak
ada keluhan dalam pemilihan latar belakang.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

08 Special and/or Practical Effects

Sebenarnya
jika dibandingkan dengan banyak film seangkatan, efek visual dalam The Mummy
Returns sudah baik secara umum. Namun, film ini akan dibandingkan dengan The Mummy dan film-film besar Hollywood.
Memang, 2001 sudah lama berselang, namun perlu diingat bahwa
The Lord of the
Rings
dirilis pada tahun 2001, Harry Potter and
the Sorcerer’s Stone
pun dirilis pada
tahun yang sama. Maka, tidak heran jika terdapat ekspektasi besar terhadap efek
visual film ini. Jika diamati, masih banyak adegan komputer yang tampak kasar.
Memang, banyak dari adegan ini sudah dibuat “semaksimal mungkin”, tetapi
seharusnya keterbatasan teknologi tidak dipaksakan dan dapat disiasati dengan
menggunakan efek praktis. Sebagai conton pada proses pembuatan
Jurassic Park, Steven Spielberg melihat potensi besar teknologi komputer
dan menggunakannya untuk mengganti teknologi Stop-Motion yang merupakan teknik
tradisional dalam mempertontonkan adegan monster. Namun, ia juga menyadari
bahwa teknologi robot atau animatronic masih memiliki keunggulan dalam
adegan-adegan tertentu. Maka, adegan yang dapat direkam menggunakan animatronik
akan direkam menggunakan animatronik. Apabila seluruh adegan dipaksakan menggunakan
efek komputer, maka Jurassic Park
tidak akan memiliki realisme efek visual yang memukau hingga puluhan tahun
setelah filmnya dirilis. Dalam The Mummy Returns, ada banyak adegan yang
seharusnya bisa direkam menggunakan properti sungguhan, tetapi justru direkam
menggunakan efek komputer. Sosok Scorpion King, misalnya, seharusnya dapat direkam
dengan aktor asli menggunakan sebuah kostum. Coba kita perhatikan kembali sosok
monster robot dalam film The Relic
atau bahkan pasukan monster milik Jadis dalam The Chronicles of Narnia yang banyak menggunakan efek nyata
(make-up)—padahal Narnia dirilis 4
tahun setelah The Mummy Returns dengan teknologi komputer yang sudah lebih
canggih. Film-film 2005 ke bawah yang terlalu memaksakan menggunakan efek
komputer terlalu banyak berisiko besar tampak ketinggalan jaman setelah
melewati tahun 2010. Mengapa Jurassic
Park
masih tampak sangat nyata? Itu karena sutradaranya paham betul
keterbatasan teknologi komputer dan menempatkan teknologi komputer dan
teknologi praktis pada tempat dan porsinya masing-masing.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

09 Audience Approval

The
Mummy Returns mendapatkan tanggapan yang positif dari mayoritas penonton.
Meskipun narasi film ini tidak sekuat film pertamanya, namun sebagian besar
penonton masih merasa terhibur dengan aksi dalam film ini dan dapat melihat
adanya hubungan cerita yang jelas antara The
Mummy
dengan The Mummy Returns.

6.4/10 IMDb

47% Rotten Tomatoes

48% Metacritic

89% liked
this film Google users

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

10 Intentional Match

Sudah
menjadi hal yang wajar bahwa nyaris setiap sekuel dibuat untuk menjadi “serba
lebih” dari film pertamanya. Hasrat untuk menjadi lebih ini seringkali membuat
pencipta terbawa suasana dan “semuanya ingin dijejalkan dalam satu film”.
Melihat dari kisah George Lucas, Steven Spielberg, bahkan Walt Disney, mereka
beberapa kali menjejalkan konsep-konsep lama yang mustahil disertakan dalam
film sebelumnya karena berbagai alasan. Ada konsep-konsep yang tidak dipakai
dalam Cinderella yang dipakai dalam
Sleeping Beauty, konsep-konsep tidak terealisasikan dalam Indiana Jones Raider of the Lost Ark
yang ditampilkan dalam Indiana Jones and
the Temple of Doom
, dan konsep-konsep terkendala teknis dalam Star Wars Episode IV yang baru bisa
ditampilkan dalam Star Wars Episode V.
Salah satu kutipan pembuat film ini yang disertakan dalam dokumenter behind the
scenes di paket DVD-nya adalah, “Bagaimana kita “melampaui” diri kita sendiri.”
Meskipun pada akhirnya The Mummy Returns tidak mampu “melampaui” The Mummy dari segi kualitas, namun film
ini telah menampilkan apa yang diinginkan oleh penciptanya: lebih banyak aksi,
lebih banyak komedi, lebih banyak efek komputer, dan lokasi Petualangan yang
lebih beragam. Pusat nilai jual The Mummy Returns tidak lagi berada pada
Narasi, namun pada Aksi.

ADDITIONAL CONSIDERATIONS

[Lima poin tambahan ini bisa menambah dan/atau mengurangi
sepuluh poin sebelumnya. Jika poin kosong, maka tidak menambah maupun
mengurangi 10 poin sebelumnya. Bagian ini adalah pertimbangan tambahan
Skywalker, maka ditambah atau dikuranginya poin pada bagian ini adalah hak
prerogatif Skywalker, meskipun dengan pertimbangan yang sangat matang]

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

01 Skywalker’s Schemata

Setelah
menonton The Mummy kemudian menonton
The Mummy Returns, saya bisa dengan jelas merasakan berkurangnya kadar Horror
secara signifikan. Misteri dan kemuculan Imhotep dalam The Mummy, walaupun tidak semenakutkan film-film hantu seperti Nightmare on Elmstreet atau Evil Dead, tetapi tetap memiliki nuansa
Horror yang cukup membuat saya merinding di beberapa adegan. Sensasi semacam
ini tidak lagi saya rasakan dalam The Mummy Returns. Namun, saya tetap menyukai
The Mummy Returns karena film ini tetap berhasil memberikan tontonan yang
menyenangkan (epic). Efek komputernya, bagi saya dahulu ketika pertama kali
menontonnya, sudah sangat bagus dan adegan aksinya sangat menarik disandingkan
dengan berbagai aksi lucu para karakternya. Film ini juga tetap melanjutkan
narasi dari film pertamanya dengan cukup baik sehingga The Mummy dan The Mummy Returns seperti berada dalam satu Universe
yang sama—kesamaan yang tidak saya jumpai dalam The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor, seperti perbedaan nuansa
antara trilogi
Jurassic Park dengan Jurassic World.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

Adegan
pertempuran orang-orang Medjai dengan pasukan Anubis adalah sebuah adegan yang
spektakuler. Saya mengapresiasi film ini karena menyelesaikan cerita Imhotep
dengan baik: setelah film ini, tidak ada lagi alasan bagi Imhotep untuk bangkit
kembali. Saya berterima kasih pada semua film yang bersedia mengakhiri
ceritanya setelah cerita itu memang benar-benar selesai alih-alih terus
dipanjang-panjangkan. Sebagai seorang penggemar, saya terus terang tidak suka
kepada penggemar lain yang senantiasa merengek meminta sebuah film atau seri
untuk “dilanjutkan”. Ketika sebuah cerita telah usai, maka sudah usai dan tidak
perlu diperpanjang lagi—move on.
Terbukti banyak sekali film yang alur ceritanya menjadi tidak masuk akal bahkan
berseberangan dengan film-film pertamanya karena sebatas menuruti kemauan
penggemar (fan-service). Apa jadinya kalau kisah-kisah penggemar (fanfiction) Harry Potter yang penuh narasi erotis
seperti Dobby menjadi Elf yang gila seks itu diangkat ke layar lebar?

02 Awards

Tidak
ada penghargaan yang penting untuk disebutkan.

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

03 Financial

Dari
dana sebesar $89 juta, The Mummy Returns menjual tiket sebesar $435 juta.
Berikut tabel pemasukan (Box Office) dibandingkan dengan biaya pembuatan
(Production Budget) setiap entry seri The Mummy.

Release
Date

Title

Production
Budget

Opening
Weekend

Domestic
Box Office

Worldwide
Box Office

Aug 1, 2008

The Mummy: Tomb of the Drag…

$175,000,000

$40,457,770

$102,491,776

$405,760,225

Apr 19, 2002

The Scorpion King

$60,000,000

$36,075,875

$90,580,000

$165,890,634

May 4, 2001

The Mummy Returns

$98,000,000

$68,139,035

$202,007,640

$435,040,395

May 7, 1999

The Mummy

$80,000,000

$43,369,635

$155,385,488

$416,385,488

 

Averages

$103,250,000

$47,010,579

$137,616,226

$355,769,186

Totals

4

$413,000,000

$550,464,904

$1,423,076,742

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All Rights Reserved.

04 Critics

Mayoritas
kritikus memberikan tanggapan yang negatif untuk film ini terutama dari segi
narasi.

05 Longevity

The
Mummy Returns tetap disukai oleh penonton karena tetap melanjutkan cerita dalam
The Mummy dan menyajikan tontonan yang menyenangkan. Namun, efek komputer dalam
film ini—walau secara umum sudah baik untuk sebuah film tahun 2001—telah
berubah menjadi bahan olok-olok banyak kalangan masyarakat.

Final Score

Skor
Asli                     : 7

Skor
Tambahan           : 1/2

Skor
Akhir                  : 7.5/10

***

Spesifikasi Optical Disc

[Cakram Film DVD/VCD/Blu-ray Disc]

Judul               : The Mummy Returns (Special
Edition)

Rilis                 : 2001

Format             : DVD-9 [Dual-Layered]

Kode
Warna    : 3/NTSC [support upscaling
hingga 1080/24 dan 60hz]

Fitur                : Filmmaker commentary, trailer,
behind the scenes, outtakes, exclusive previews on The Scorpion King, music
video, DVD-ROM

Support           : Windows 98-10 [VLC Media Player],
DVD Player, HD DVD Player [termasuk X-Box 360]
, Blu-ray Player [termasuk PS 3 dan 4], 4K UHD Blu-ray Player [termasuk PS 5].

Keterangan Support:

[Support VCD, DVD, Kecuali Blu-ray dan 4K]

[Support VCD, DVD,
Termasuk Blu-ray, Kecuali 4K]

[Support Semua
Termasuk 4K]

***

Edisi Review Singkat

Edisi ini berisi penilaian film menggunakan pakem/standar
penilaian Skywalker Hunter Scoring System yang diformulasikan sedemikian rupa
untuk menilai sebuah karya film ataupun serial televisi. Karena menggunakan
standar yang baku, edisi review Skywalker akan jauh lebih pendek dari review
Nabil Bakri yang lainnya dan akan lebih objektif.

Skywalker Hunter adalah alias
dari Nabil Bakri

Keterangan Box Office dan penjualan DVD disediakan oleh The Numbers

©2001/Universal Pictures/The Mummy Returns/All
Rights Reserved.

 

Induk Perusahaan Google Temui Pejabat Pajak Indonesia

Jakarta - Eksekutif senior Alphabet, induk perusahaan Google, dari kantor pusat Asia Pasifik dikabarkan telah bertemu dengan pejabat kantor pajak Indonesia. Demikian dikabarkan sumber terkait yang dikutip detikINET dari Reuters.Kedatangan para bos Alphabet itu adalah...

Agar Tak Dikejar Pajak, Selebgram Hingga Youtubers Bisa Ikut Tax Amnesty

Malang - Selebgram hingga youtubers diincar untuk membayar pajak. Namun, jika mereka selama ini tidak pernah lapor dan membayar pajak, maka bisa mengikuti program tax amnesty yang sedang bergulir saat ini."Kalau mereka sudah lama nggak pernah lapor dan nggak pernah...

Amnesti Pajak Sumbang Kenaikan Rasio Pajak 1,08% Terhadap PDB

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Kadin bidang Kebijakan Moneter, Fiskal, dan Publik, Raden Pardede mengatakan, pelaksanaan amnesti pajak pada tahun ini akan meningkatkan rasio pajak 1,08% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dan ini merupakan bentuk usaha pemerintah agar...

Keluhan Pegawai Pajak untuk Sri Mulyani Soal Penangkapan KPK

Jakarta - Penangkapan pejabat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akibat dugaan kasus suap memicu kekecewaan banyak pihak, khususnya para pegawai di lingkungan Ditjen Pajak yang selama ini menjunjung...

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *